Friday, 9 May 2014

Rise of the Evening Star (Fablehaven #2)

Judul: Bangkitnya Bintang Malam (Fablehaven #2)
Penulis: Brandon Mull
Translator:  
Copy-editor: Rika Iffati Farihah
Proofreader: Tisa Anggriani
Penerbit: Mizan Fantasi
Terbit: Agustus 2011
Tebal: 508 hlm.
ISBN: 9789774336298


Saat membuka mata, dia terkejut mendapati bagian dalam kepompong diterangi oleh pendar hijau lembut, seolah cahaya tersebut menembus masuk dari luar. Kepompong tetap tenang tak wajar. Apakah Olloch sedang tidur? Kenapa tiba-tiba ada cahaya? Apakah cahaya tersebut menembus tubuh Olloch sekaligus kepompong?


Lima Suaka rahasia yang tersisa termasuk Fablehaven, kini terancam. Sebuah komunitas yang disebut sebagai Komunitas Bintang Malam ingin memusnahkan semua suaka. Kelompok itu mengincar artefak-artefak yang memiliki kekuatan istimewa. Artefak-artefak itu tidak boleh disatukan, karena kekuatannya dapat menghancurkan suaka-suaka yang masih ada. Dan dalam usahanya mengumpulkan seluruh artefak yang ada, komunitas Bintang Malam menculik Grandpa Sorenson yang dianggap mengetahui keberadaan artefak terakhir itu.


Demi menyelamatkan sang kakek, Kendra dan Seth berjuang untuk bisa lebih dulu menemukan artefak tersebut. Bersama dengan Vanessa si ahli Mahluk Magis, mereka berusaha menemukan artefak tersebut. Namun, dalam perjalanan pencarian artefak itu, Vanessa ternyata berkhianat. Pada siapakah Vanessa berpihak? Mampukah mereka menemukan artefak tersebut dan menyelamatkan suaka serta kakek mereka?
***
Aku selesai baca ini April kemarin, cuma gak tahu kenapa mood bloggingku lagi jelek jadi postingannya telat. Padahal bukunya juga udah telat banget ya? 2011 gitu loh? kakak aku aja bilang ini buku terbit pas Mizan belum di Bandung. Aku dapetin novel ini dari toko buku online, itu pertama kalinya dan kebetulan mizan ngadain 6th book fair so buku ini harganya kurang dari 50% buku aslinya. beruntung banget kan? gak tanggung-tanggung aku beli langsung sampe buku keempat, buku kelima nggak soalnya diskonnya dikit dasar modal diskon dan lagian uang hasil giveaway dari PNFI cuma 100rb, dan nambah 12ribu untuk dapetin 3 novel fablehaven ini, oh indahnya dunia! wkkwkwkw
****
Balik lagi ke Kendra dan Seth. Kendra yang setelah di fablehaven pertama, (kamu bisa buka reviewku di sini) yang dicium sam peri-peri itu jadi berkelanjutan bisa liat makhluk magis tanpa bantuan susu, sekarang melihat goblin jelek di sekolahnya. Seth sih nggak bisa liat, soalnya yang keliatan itu malah cowok ganteng! Naah, si Kendra ketemu Errol yang ngebantu mereka berdua untuk mengusir goblin itu. eehh, tanpa disangka-sangka Errol ini ternyata musuh!!!!! untung Vanessa, orang yang dipercayai grandpa Sorenson menjemputnya ke suaka rahasia. 

Berdua dengan Seth, Kendra belajar dari Coulter (sahabat kakeknya, ahli benda magis), Tanu (ahli ramuan, rekomendasi Spinx), dan Vanessa (ahli makhluk magis, rekomendasi Spinx). Mereka membantu untuk menemukan artefak yang disimpan tersembunyi di suaka mereka, kenapa dicari? karena takut dicuri dan disalahgunakan oleh Perhimpunan Bintang Malam yang semakin lama semakin mengancam.

Ohya, siapa Spinx itu? Dia orang biasa berkekuatan magis(?), bukan kucing yang pertama kali terlintas di kepalaku, hehe. 

Nah, ternyata dari ketiga orang yang membantu Sorenson family untuk menemukan pusaka atau artefak di suakanya, satu orang adalh pengkhianat! who is he/she? Dan dapatkah mereka menyelamatkan suaka serta menemukan artefak itu? apa artefaknya? 
***

asalnya mau 4 bintang, tapi pas baca bagian akhir jadi nambah 4,5 bintang deh. asli bikin tercengang di surat Vanessa. Bikin penasaran banget!! gak sabar pengen baca yang selanjutnya! tapi sayang bukunya ketinggalan di rumah (pas baca ini lagi liburan jadi bawa bukuu dikit, eh taunya kurang-_-)



awal-awal cerita emang biasa aja, tapi kesananya menarik banget dongg! ada, Olloch, si patung yang bakal bangun kalau ada yang ngasih makan biskuit dan jadi patung lagi kalo udah berhasil memakan orang yang membangunkannya. Terus ada vampire jangan bayangin Edward, karena ini luar biasa berbeda, terus ada kucing 9 nyawa, revenant yang kalo kamu berada di dekatnya akan sangat merasa ketakutan sampai jatuh tak bisa bergerak, dan lain sebagainyaaaaaaaaaa.


Di awal secara nggak langsung, penulis ngasih sedikit gambaran di buku pertama, mungkin untuk yang lupa, tapi beneran deh bukunya dia mah susah dilupain. Apalagi Lena! Disini Lena cuma dikit dan hasilnya untuk kendra tetep nihil, Lena tetep jadi naiad._.


awalnya aku curiga Tanu pengkhianatnya, tapi ternyata......................................... hehehe


Oya, di depan dikasih tau 'ketidaktahuan bukan lagi perlindungan' dan pas awal baca kan si ortu kendra + seth ini ditinggalin dan dianggep bisa bebas dari anceman. Nah kata2nya nggak singkron kan? tapi pas halaman berikutnya pas Kendra+seth udah di suaka rahasia, si nenek yang udah berubah jadi ayam langsung bilang kalimat itu ditambah 'untuk kalian berdua'. Oh! ini baru masuk akal. hehehe *apacobaakuuini?



waktu kendra ketemu liliput seru. terusss, ini kayaknya lebih berat ke tokoh Kendra ya? banyak banget dianya. Di sini tetep ngeliatin Seth yang berani dan nekat, untungnya kali ini berhasil! yeaa! Kendra juga semakin unik dengan kemampuan-kemampuan barunya. Dan ngomong-ngomong pas Kendra ketemu Warren juga seru, haha. aku ngebayanngin si albino ini ganteng *plak!

overall, ceritanya tetep keren, menarik dan mengesankan juga bikin penasaran!

Saturday, 5 April 2014

Kampanye Pemilu Bikin Mata sama Lingkungan Rusak


Loh, loh, ada apa tuh? Tiba-tiba ngomongin kampanye pemilu si gue? heheheh. Iyanih, pas tadi siang mau berangkat les, aku liat sepanjang jalan kenangan Cimahi (gak panjang juga sih) baik kanan maupun kiri ada banyyaaakkk banget bendera, baliho, poster, reklame, spanduk sebagai alat peraga kampanye. Dan aku perhatiin itu tuh malah bikin kumuh tempat itu. Mereka tuh asal tempel, gak pake seni, gak enak banget diliat sama mata. Main paku aja mereka di pohon, main lem aja mereka di pinggir jalan. Duh, Gimana mau milih caleg yang bagus kalau kebanyakan dari calegnya sendiri merusak lingkungan? Bukan contoh yang baik! hfff.
Terus selebaran yang suka dibagiin juga bertebaran di mana aja, bikin sampah di mana-mana. Padahal itu semua tuh darimana coba? dari lingkungan kan? Dari pohon. Masa ngorbanin sekian banyak pohon untuk produksi selebaran yang berakhir di tempat sampah? Masih untung kalo dipake bungkus gorengan. Gimana kalau bertebaran di jalan? Atau berakhir di pembakaran? Pembakaran itukan perlu oksigen, jadi malah ngurangin oksigen deh, terus ngehasilin karbon dioksida deh, bikin pemanasan global deh, penipisan ozon deh. Oh, coba balik lagi ke pohon yang jadi kertas, pohon darimana? Dari hutan, dan kalian tahu hutan itu makin lama makin berkurang. Mana Indonesia yang dulunya zamrud khatulistiwa? Sekarang? Gundul semua. 
Fyi, waktu kebakaran hutan di Riau itu katanya disengaja loh, buat apa? Buat usaha si perusahaan asing, jadi lahan itu dibeli sama mereka buat nanem tanaman apa gitu aku lupa. Terus ntar lahan itu dikerjain sama orang kita, mereka dikontrak 5 atau 10 tahun, semacam rodi lah, kalau mereka berhenti mereka harus bayar senilai yang orang asing mau bayar. loh, loh? bikin emosi bangetkan? errrgghh.

Back to Kampanye: Terus itu poster pemilu juga cuma mampangin foto ukuran gede, nama dan nomor. Lah? Apa informasi yang didapet? Tiba-tiba suruh coblos aja. Tapi mungkin wajar juga, soalnya kebanyakan dari mereka mampangin semboyan yang omong kosong, cuma tulisan tanpa bukti. Atau cara nyuap, mereka ngasih duit ke masyarakat asal mereka mau nyoblos mereka. Dan bego banget kalo masyarakat ngeiyain, masa mau pemimpin yang begitu sih? 
Ohya, masalah kampanye tadi (baca: bendera, baliho, poster, reklame, spanduk, dan selebaran kertas) mungkin aku lebih menghargai mereka yang berkampanye di tv, radio, sosmed dan lain-lain yang nggak perlu ngerusak ingkungan. Karena kita menyatu dengan lingkungan, kita butuh lingkungan yang bersih dan nyaman.

Sudah saatnya masyarakat Indonesia diwakili oleh orang-orang yang peduli pada lingkungan hidup di parlemen. (Maret 2014: Kepala Departemen Jaringan dan Pengembangan Sumber Daya Walhi - m.jurnas.com)

Oke, itu cuma unek-unek. Maaf kalo aku benar.